NO BOX LEADERSHIP , PERTANYAAN SEPUTAR SEM PLS BUAT COACH NAQOY
Mengapa Bapak memilih SEM-PLS dibandingkan Covariance Based SEM (CB-SEM)?
Jawaban
"Terima kasih Prof atas pertanyaannya.
Saya memilih SEM-PLS karena tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan dan memprediksi model No Box Leadership, bukan menguji teori yang sudah mapan.
Selain itu, SEM-PLS lebih sesuai untuk model yang kompleks dengan banyak konstruk laten dan indikator, serta tidak mensyaratkan distribusi data normal secara ketat. Oleh karena itu, SEM-PLS lebih tepat untuk penelitian pengembangan model seperti disertasi ini."
2. Mengapa menggunakan SmartPLS?
Jawaban
"SmartPLS dipilih karena mampu mengestimasi model pengukuran (outer model) dan model struktural (inner model) secara bersamaan. Selain itu, SmartPLS menyediakan analisis bootstrapping untuk menguji signifikansi hubungan antarvariabel sehingga sangat sesuai dengan tujuan penelitian saya."
3. Mengapa menggunakan bootstrapping?
Jawaban
"Bootstrapping digunakan untuk memperoleh estimasi standar error, nilai t-statistic, dan p-value secara nonparametrik melalui proses resampling. Dengan demikian, signifikansi hubungan antarvariabel dapat diuji secara lebih robust."
4. Mengapa batas t-hitung menggunakan 1,96?
Jawaban
"Karena penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi 5% (α = 0,05) dengan pengujian dua arah (two-tailed). Berdasarkan distribusi normal, nilai kritisnya adalah 1,96. Oleh karena itu, hubungan dinyatakan signifikan apabila t-hitung lebih besar dari 1,96."
5. Apa yang dimaksud dengan Outer Model?
Jawaban
"Outer Model merupakan model pengukuran yang digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara konstruk laten dengan indikator-indikatornya. Pada tahap ini diuji validitas konvergen, validitas diskriminan, serta reliabilitas konstruk agar dipastikan bahwa instrumen benar-benar mengukur variabel yang dimaksud."
6. Apa yang dimaksud dengan Inner Model?
Jawaban
"Inner Model adalah model struktural yang menguji hubungan antarvariabel laten sesuai hipotesis penelitian. Pada tahap ini dianalisis koefisien jalur, nilai t-statistic, p-value, R², dan kemampuan prediksi model."
7. Mengapa harus menguji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu?
Jawaban
"Karena sebelum menguji hipotesis, instrumen harus dipastikan valid dan reliabel. Jika indikator tidak valid atau tidak reliabel, maka hasil pengujian hubungan antarvariabel dapat menjadi bias."
8. Mengapa menggunakan Composite Reliability, bukan hanya Cronbach's Alpha?
Jawaban
"Cronbach's Alpha mengasumsikan bahwa seluruh indikator memiliki kontribusi yang sama, sedangkan Composite Reliability mempertimbangkan bobot masing-masing indikator. Oleh karena itu, dalam SEM-PLS Composite Reliability lebih direkomendasikan sebagai ukuran reliabilitas konstruk."
9. Mengapa menggunakan AVE?
Jawaban
"Average Variance Extracted (AVE) digunakan untuk mengukur validitas konvergen, yaitu sejauh mana indikator mampu menjelaskan konstruk laten. Nilai AVE di atas 0,50 menunjukkan bahwa lebih dari 50% varians indikator dapat dijelaskan oleh konstruknya."
10. Mengapa menggunakan HTMT atau Fornell-Larcker?
Jawaban
"Pengujian tersebut digunakan untuk memastikan validitas diskriminan, yaitu memastikan bahwa setiap konstruk benar-benar berbeda dengan konstruk lainnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih pengukuran."
11. Apa arti koefisien jalur (Path Coefficient)?
Jawaban
"Koefisien jalur menunjukkan arah dan kekuatan hubungan antarvariabel. Nilai positif menunjukkan hubungan searah, sedangkan semakin besar nilainya menunjukkan semakin kuat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen."
12. Apa arti nilai R-Square?
Jawaban
"R-Square menunjukkan besarnya variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam model. Semakin besar nilai R², semakin baik kemampuan model dalam menjelaskan fenomena yang diteliti."
13. Mengapa hipotesis moderasi tidak signifikan?
Jawaban
"Berdasarkan hasil bootstrapping, nilai t-statistic interaksi antara No Box Leadership dengan Budaya Organisasi maupun Sumber Daya berada di bawah 1,96. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut tidak memperkuat ataupun memperlemah hubungan No Box Leadership terhadap kinerja."
14. Apakah hipotesis yang ditolak berarti model gagal?
Jawaban
"Tidak, Prof. Dalam penelitian ilmiah, hipotesis yang ditolak tetap merupakan temuan yang penting. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang diasumsikan sebelumnya tidak didukung oleh data empiris. Justru hal ini memberikan kontribusi dalam pengembangan teori karena menunjukkan bahwa tidak semua variabel berperan sesuai dugaan awal."
15. Mengapa pengaruh X1 terhadap X2 sangat besar (0,829)?
Jawaban
"Koefisien sebesar 0,829 menunjukkan bahwa No Box Leadership memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap Sistem Organisasi. Secara substantif, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan kepemimpinan akan diikuti oleh perubahan tata kelola, struktur organisasi, dan mekanisme kerja secara signifikan."
16. Apa kesimpulan SEM-PLS dalam penelitian Bapak?
Jawaban
"Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa No Box Leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Perguruan Tinggi, Sistem Organisasi, dan Teknologi Informasi. Selanjutnya, Sistem Organisasi dan Teknologi Informasi juga berpengaruh positif terhadap kinerja. Namun, Budaya Organisasi dan Sumber Daya Organisasi tidak terbukti berperan sebagai variabel moderasi. Dengan demikian, kualitas kepemimpinan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kinerja perguruan tinggi."
Pertanyaan yang sering muncul dari Profesor
"Mengapa menggunakan SEM-PLS, tetapi hasil akhirnya masih menggunakan ISM?"
Jawaban terbaik
"SEM-PLS dan ISM memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi. SEM-PLS menjawab pertanyaan apakah hubungan antarvariabel signifikan secara statistik. Sementara itu, ISM menjawab bagaimana hasil penelitian tersebut diimplementasikan secara bertahap melalui penentuan faktor-faktor prioritas. Dengan menggabungkan keduanya, penelitian ini tidak hanya menghasilkan bukti empiris, tetapi juga memberikan model implementasi yang aplikatif bagi Perguruan Tinggi Swasta."

.png)