PERTANYAAN TENTANG ISM NO BOX LEADERSHIP COACH NAQOY, DISERTASI
1. Mengapa Bapak menggunakan Soft Systems Methodology (SSM)?
Jawaban
"Terima kasih Prof. Saya menggunakan SSM karena permasalahan kepemimpinan di Perguruan Tinggi Swasta merupakan soft problem, yaitu masalah yang kompleks, melibatkan banyak aktor, memiliki kepentingan yang berbeda, dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan kuantitatif. SSM membantu saya memahami situasi masalah secara menyeluruh sebelum membangun model No Box Leadership."
2. Mengapa tidak langsung menggunakan SEM-PLS?
Jawaban
"SEM-PLS hanya menguji hubungan antarvariabel yang telah ditentukan. Sebelum sampai pada tahap itu, saya perlu memastikan bahwa variabel yang dibangun benar-benar berasal dari kondisi nyata di lapangan. Oleh karena itu saya menggunakan SSM terlebih dahulu untuk mengeksplorasi permasalahan, kemudian hasilnya saya validasi secara kuantitatif menggunakan SEM-PLS."
3. Apa manfaat SSM dalam penelitian ini?
Jawaban
"SSM memberikan tiga manfaat utama:
- Mengidentifikasi akar masalah kepemimpinan di PTS.
- Menghasilkan model konseptual No Box Leadership.
- Menjadi dasar dalam penyusunan indikator dan hipotesis penelitian."
4. Apa yang dimaksud dengan soft problem?
Jawaban
"Soft problem adalah masalah yang tidak memiliki satu jawaban benar, melibatkan aspek manusia, budaya organisasi, nilai, persepsi, dan kepentingan berbagai pihak. Masalah kepemimpinan perguruan tinggi termasuk kategori ini karena tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan teknis semata."
5. Mengapa SSM cocok untuk penelitian kepemimpinan?
Jawaban
"Karena kepemimpinan merupakan fenomena sosial yang melibatkan perilaku manusia, budaya organisasi, komunikasi, dan proses pengambilan keputusan. Semua aspek tersebut merupakan karakteristik yang tepat dianalisis menggunakan SSM."
6. Apa output utama SSM dalam penelitian ini?
Jawaban
"Output SSM dalam penelitian ini adalah model konseptual No Box Leadership, identifikasi kebutuhan perubahan, pemetaan hambatan, serta rumusan elemen-elemen strategis yang selanjutnya diuji menggunakan SEM-PLS dan diprioritaskan melalui ISM."
7. Apa itu Rich Picture?
Jawaban
"Rich Picture merupakan representasi visual kondisi nyata organisasi yang menggambarkan hubungan antaraktor, konflik, hambatan, serta alur permasalahan. Dalam penelitian ini, Rich Picture digunakan untuk memahami kompleksitas tata kelola Perguruan Tinggi Swasta."
8. Mengapa menggunakan CATWOE?
Jawaban
"CATWOE digunakan agar model yang dibangun benar-benar mencerminkan sistem yang diteliti.
CATWOE membantu mengidentifikasi:
- Customer
- Actor
- Transformation
- Worldview
- Owner
- Environmental Constraints.
Dengan demikian model No Box Leadership dibangun berdasarkan kebutuhan organisasi, bukan hanya teori."
9. Apa Transformation dalam penelitian ini?
Jawaban
"Transformation dalam penelitian ini adalah perubahan tata kelola Perguruan Tinggi Swasta dari sistem kepemimpinan yang birokratis dan silo menjadi organisasi yang adaptif, kolaboratif, inovatif, dan berbasis nilai melalui implementasi No Box Leadership."
10. Siapa Customer dalam CATWOE?
Jawaban
"Customer dalam penelitian ini adalah pihak yang menerima manfaat dari implementasi No Box Leadership, yaitu mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah."
11. Siapa Actor?
Jawaban
"Actor adalah pihak yang menjalankan transformasi, yaitu Yayasan, Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Ketua Program Studi, dosen, serta tenaga kependidikan."
12. Apa Worldview penelitian ini?
Jawaban
"Worldview penelitian ini adalah keyakinan bahwa Perguruan Tinggi Swasta akan mampu meningkatkan daya saing apabila menerapkan kepemimpinan yang adaptif, inovatif, kolaboratif, dan berbasis nilai."
13. Siapa Owner?
Jawaban
"Owner adalah pihak yang memiliki kewenangan tertinggi terhadap perubahan organisasi, yaitu Yayasan sebagai badan penyelenggara bersama pimpinan perguruan tinggi."
14. Apa Environmental Constraint?
Jawaban
"Environmental Constraint meliputi regulasi pemerintah, kebijakan LLDIKTI, keterbatasan sumber daya, perubahan teknologi, persaingan antarperguruan tinggi, serta tuntutan akreditasi."
15. Mengapa hasil SSM dilanjutkan dengan ISM?
Jawaban
"SSM menghasilkan model konseptual. Namun model tersebut masih bersifat deskriptif. Oleh karena itu saya menggunakan ISM untuk menentukan prioritas implementasi berdasarkan Driver Power dan Dependence sehingga rekomendasi menjadi lebih operasional."
16. Apa hubungan SSM dengan No Box Leadership?
Jawaban
"SSM merupakan landasan konseptual yang melahirkan model No Box Leadership. Tanpa SSM, model tersebut hanya menjadi gagasan teoritis. Dengan SSM, model dibangun berdasarkan realitas yang ditemukan di lapangan."
17. Apa hubungan SSM dengan SEM-PLS?
Jawaban
"SSM menghasilkan model konseptual, sedangkan SEM-PLS menguji apakah model tersebut didukung oleh data empiris. Jadi SSM menjawab 'apa yang perlu dibangun', sedangkan SEM-PLS menjawab 'apakah hubungan antarvariabel tersebut benar secara statistik'."
18. Mengapa menggunakan tujuh tahap SSM?
Jawaban
"Karena tujuh tahap SSM memberikan proses yang sistematis, mulai dari memahami situasi masalah hingga merumuskan tindakan perbaikan yang layak diterapkan."
19. Apa kontribusi ilmiah penggunaan SSM?
Jawaban
"Kontribusi ilmiahnya adalah menunjukkan bahwa pengembangan teori kepemimpinan tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan kuantitatif, tetapi juga melalui eksplorasi sistem sosial menggunakan SSM sehingga model yang dihasilkan lebih kontekstual."
20. Mengapa model ini disebut No Box?
Jawaban
"Karena model ini mendorong pemimpin untuk keluar dari batas-batas berpikir konvensional, menghilangkan sekat birokrasi, membangun kolaborasi lintas fungsi, dan mengambil keputusan berdasarkan Wisdom, Intelligence, Creativity, serta Spirituality."
21. Apa perbedaan SSM dengan Design Thinking?
Jawaban
"Design Thinking lebih berfokus pada inovasi produk atau layanan, sedangkan SSM berfokus pada transformasi sistem sosial yang kompleks. Oleh karena itu, SSM lebih sesuai untuk penelitian tata kelola dan kepemimpinan organisasi."
22. Mengapa SSM masih relevan di era digital?
Jawaban
"Karena transformasi digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga perubahan budaya, struktur organisasi, dan perilaku manusia. SSM mampu mengakomodasi seluruh aspek tersebut."
23. Bagaimana Bapak memvalidasi hasil SSM?
Jawaban
"Hasil SSM saya validasi melalui dua tahap. Pertama, hasil konseptual dijadikan dasar penyusunan konstruk penelitian. Kedua, konstruk tersebut diuji secara empiris menggunakan SEM-PLS dan selanjutnya diprioritaskan implementasinya melalui ISM."
24. Mengapa No Box Leadership layak menjadi model baru?
Jawaban
"Karena model ini tidak hanya lahir dari kajian teori, tetapi juga dari eksplorasi masalah nyata menggunakan SSM, dibuktikan secara empiris melalui SEM-PLS, dan diterjemahkan menjadi model implementasi menggunakan ISM. Dengan demikian, model ini memiliki landasan konseptual, empiris, dan implementatif."
25. Jika penguji bertanya: "Apa inti penggunaan SSM dalam satu kalimat?"
Jawaban terbaik
"SSM saya gunakan untuk memastikan bahwa model No Box Leadership yang saya bangun benar-benar berasal dari kebutuhan nyata Perguruan Tinggi Swasta, sehingga model ini tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga relevan secara praktis dan dapat dibuktikan secara empiris melalui SEM-PLS serta diimplementasikan secara sistematis melalui ISM."
Jawaban terakhir ini sangat efektif sebagai penutup karena menunjukkan keterkaitan yang utuh antara SSM → SEM-PLS → ISM, yang merupakan kekuatan metodologis utama disertasi Bapak.
Karena ISM (Interpretive Structural Modeling) merupakan salah satu novelty metodologis dalam disertasi Bapak, biasanya penguji akan menggali alasan penggunaan ISM, proses analisis, interpretasi Driver Power–Dependence, hingga implementasi model. Berdasarkan materi presentasi disertasi Bapak, berikut adalah pertanyaan yang sangat mungkin muncul beserta jawaban yang dapat digunakan.
1. Mengapa Bapak menggunakan ISM dalam penelitian ini?
Jawaban
"Terima kasih Prof atas pertanyaannya.
Saya menggunakan ISM karena tujuan penelitian ini tidak berhenti pada pembuktian hubungan antarvariabel melalui SEM-PLS, tetapi juga ingin menyusun prioritas implementasi No Box Leadership.
ISM mampu mengidentifikasi hubungan hierarkis antar elemen, menentukan faktor yang menjadi penggerak utama (driver), serta menyusun tahapan implementasi secara sistematis. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya bersifat akademik tetapi juga aplikatif."
2. Mengapa ISM digunakan setelah SEM-PLS?
Jawaban
"SEM-PLS dan ISM memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
SEM-PLS menjawab pertanyaan 'apakah hubungan antarvariabel signifikan?', sedangkan ISM menjawab 'bagaimana hasil penelitian tersebut diimplementasikan dan faktor mana yang harus diprioritaskan?'
Jadi, SEM-PLS menghasilkan bukti empiris, sedangkan ISM menghasilkan peta implementasi."
3. Apa yang dimaksud dengan Interpretive Structural Modeling?
Jawaban
"ISM adalah metode pemodelan struktural yang digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar elemen dalam suatu sistem yang kompleks, kemudian menyusunnya ke dalam struktur hierarki berdasarkan tingkat pengaruh (driver power) dan tingkat ketergantungan (dependence)."
4. Mengapa menggunakan pakar dalam ISM?
Jawaban
"Karena ISM merupakan metode berbasis penilaian ahli (expert judgment). Pakar dipilih karena memiliki pengalaman dan kompetensi dalam tata kelola perguruan tinggi sehingga mampu memberikan interpretasi terhadap hubungan antar elemen secara lebih akurat."
5. Mengapa menggunakan lima orang pakar?
Jawaban
"Dalam ISM yang lebih diutamakan adalah kualitas dan kompetensi pakar, bukan jumlah responden seperti pada survei kuantitatif. Lima pakar yang saya libatkan memiliki pengalaman di bidang kepemimpinan dan pengelolaan perguruan tinggi sehingga dinilai memadai untuk menghasilkan konsensus yang dapat dipertanggungjawabkan."
6. Apa fungsi SSIM?
Jawaban
"SSIM atau Structural Self-Interaction Matrix digunakan untuk merekam penilaian pakar mengenai hubungan antar elemen menggunakan simbol V, A, X, dan O sebelum dikonversi menjadi matriks biner."
7. Apa arti simbol V, A, X, dan O?
Jawaban
V berarti elemen i memengaruhi elemen j.
A berarti elemen j memengaruhi elemen i.
X berarti kedua elemen saling memengaruhi.
O berarti tidak terdapat hubungan langsung.
8. Apa fungsi Reachability Matrix?
Jawaban
"Reachability Matrix digunakan untuk mengubah SSIM menjadi bentuk numerik, kemudian dilakukan analisis transitivitas sehingga hubungan antar elemen dapat dianalisis secara lebih sistematis."
9. Apa itu Driver Power?
Jawaban
"Driver Power menunjukkan tingkat kemampuan suatu elemen dalam memengaruhi elemen-elemen lain dalam sistem.
Semakin tinggi Driver Power, semakin strategis elemen tersebut untuk diprioritaskan."
10. Apa itu Dependence?
Jawaban
"Dependence menunjukkan tingkat ketergantungan suatu elemen terhadap elemen lain.
Semakin tinggi nilai Dependence, semakin besar elemen tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor lain."
11. Mengapa Driver Power penting?
Jawaban
"Karena Driver Power membantu menentukan faktor pengungkit (leverage factor). Dengan memfokuskan intervensi pada elemen yang memiliki Driver Power tinggi, perubahan sistem akan memberikan dampak yang lebih luas."
12. Jelaskan empat sektor pada Diagram Driver Power–Dependence.
Jawaban
"Diagram Driver Power–Dependence membagi elemen ke dalam empat sektor:
- Autonomous: pengaruh dan ketergantungan rendah.
- Dependent: pengaruh rendah tetapi ketergantungan tinggi.
- Linkage: pengaruh tinggi dan ketergantungan tinggi sehingga harus dikelola hati-hati.
- Independent: pengaruh tinggi dan ketergantungan rendah sehingga menjadi faktor prioritas."
13. Mengapa program penguatan kepemimpinan berbasis No Box menjadi prioritas?
Jawaban
"Hasil ISM menunjukkan bahwa program penguatan kapasitas kepemimpinan berbasis No Box memiliki Driver Power tertinggi dalam rencana aksi. Artinya, peningkatan kualitas kepemimpinan merupakan titik awal yang paling efektif untuk mendorong perubahan pada elemen-elemen lainnya."
14. Apa manfaat struktur level dalam ISM?
Jawaban
"Struktur level menunjukkan urutan implementasi. Elemen pada level dasar merupakan fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu, sedangkan elemen pada level atas merupakan hasil atau konsekuensi dari implementasi elemen-elemen sebelumnya."
15. Apa hasil utama ISM dalam penelitian Bapak?
Jawaban
"ISM menghasilkan model implementasi No Box Leadership yang menjelaskan kebutuhan, hambatan, indikator keberhasilan, aktor yang terlibat, sektor yang terdampak, perubahan yang diharapkan, dan rencana aksi secara bertahap sehingga memudahkan implementasi di Perguruan Tinggi Swasta."
16. Apa kontribusi ilmiah ISM pada penelitian ini?
Jawaban
"Kontribusi ilmiahnya adalah menerjemahkan hasil konseptual dan hasil empiris menjadi model implementasi yang memiliki urutan prioritas. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjelaskan hubungan sebab akibat, tetapi juga memberikan panduan implementasi yang dapat digunakan oleh pimpinan perguruan tinggi."
17. Mengapa ISM cocok untuk No Box Leadership?
Jawaban
"Karena No Box Leadership merupakan konsep kepemimpinan yang melibatkan banyak elemen organisasi yang saling berhubungan. ISM mampu memetakan hubungan tersebut menjadi struktur yang logis sehingga implementasi dapat dilakukan secara bertahap dan terarah."
18. Bagaimana hubungan SSM, SEM-PLS, dan ISM?
Jawaban (sering menjadi pertanyaan profesor)
"Ketiga metode tersebut membentuk satu alur penelitian yang utuh.
- SSM digunakan untuk mengidentifikasi masalah nyata dan membangun model konseptual.
- SEM-PLS digunakan untuk menguji model tersebut secara empiris.
- ISM digunakan untuk menyusun strategi implementasi berdasarkan prioritas hubungan antar elemen.
Dengan demikian, penelitian ini memiliki kekuatan konseptual, empiris, sekaligus implementatif."
19. Jika penguji bertanya: "Mengapa tidak cukup dengan SEM saja?"
Jawaban terbaik
"SEM-PLS hanya menunjukkan bahwa suatu hubungan signifikan atau tidak signifikan. Namun SEM tidak menjelaskan urutan implementasi kebijakan. ISM melengkapi kekurangan tersebut dengan menunjukkan faktor mana yang menjadi penggerak utama, faktor pendukung, dan tahapan implementasi. Oleh karena itu kedua metode ini saling melengkapi."
20. Pertanyaan penutup yang sering muncul
Penguji: "Apa satu kalimat yang menjelaskan manfaat ISM dalam disertasi Bapak?"
Jawaban
"ISM saya gunakan untuk mengubah hasil penelitian yang bersifat konseptual dan empiris menjadi peta implementasi yang terstruktur, sehingga No Box Leadership tidak hanya menjadi teori yang terbukti secara statistik, tetapi juga menjadi model yang dapat diterapkan secara nyata dalam transformasi Perguruan Tinggi Swasta."

.jpeg)